Sabtu, 08 Januari 2011

Ketika kita teralihkan oleh gempita sepak bola

Noviana Raharjaningtyas on Sunday, December 19, 2010 at 8:52pm


"presiden SBY memborong tiket pertandingan AFF"
"Akses menuju senayan macet total"

Barang kali itulah headline yang sering kita lihat di koran-koran atau media lain. Semua berkisar mengenai betapa 'gagah'nya pemain sepak bola kita dalam bertanding di lapangan hijau kejuaraan yang diadakan untuk wilayah asia tenggara ini. Bahkan saat tadi saya mulai menulis, teriakan gegap gempita berdengung di sebelah rumah saya demi mendukng tim negaranya meskipun hanya lewat layar kaca.

Permasalahan dalam pikiran saya adalah mengenai 'taktik', bukan taktik untuk bermain sepak bola, namun taktik pemimpin kita untuk mengalihkan sebuah wacana atau masalah. Dari munculnya statement bapak negara kita mengenai kasus video porno, hingga munculnya ruu pencabutan status istimewa Yogyakarta, selalu dibarengi dengan permasalahn negara yang memojokan petinggi kita, masalah gayus muncul di bali misalnya, hingga menyerempet perusahaan seorang pemimpin partai besar, dan dengan sigap ditutupi oleh masalah2 baru yang sekiranya tidak penting untuk terlalu dibahas namun karena besarnya media mengekspos hingga menjadi suatu kepelikan tersendiri atau membuat kontroversi baru hingga muncul tim pro dan kontra.

Berita yang menjadi fokus kali ini adalah sepak bola, entah karena negara kita yang jarang berprestasi di ajang internasional ataupun munculnya pemain anyar yang mampu menarik khalayak, dan sekali lagi media massa benar2 memprioritaskan berita tersebut (bahkan muncul kembali kartun untuk anak2 ttg olah raga tersebut yg sbnarnya tlh tamat sejak lama), dapat ditebak kita semua larut di dalamnya. Kita lupa mengenai masalah yang benar2 patut untuk dituntut kebenarannya. Tahukah bahwa wikiLeaks membeberkan bahwa AS memperhatikan kasus Munir? Kasus mengenai terbunuhnya aktivis HAM yang kebenarannya belum terungkap sejak awal periode pertama terpilihnya bapak presiden kita sekarang dan kali ini dicurigai adanya keterlibatan petinggi intelijen kita, tappi berita itu terasa hanya seperti angin sepoi diantara puting beliung mengenai irfan bachim, gonzales atau pemain bola lainnya.

Warga masyarakat tersihir, dan bagian perencana tersenyum mendengar kesuksesannya. Bagian taktik telah berhasil membawa kita ke dalam angan2 bahwa indonesia kembali memasuki masa emas dunia persepakbolaan.

Fakta dari sebuah stasiun televisi yang kebetulan saya lihat baru2 ini, bahwa beberapa tahun lalu ada pemain sepak bola dari negara kita yang melakukan gol bunuh diri dalam suatu kejuaraan internasional. Nama indonesia tercoreng, kalah, dan kembali terpuruk. Namun kemudian pemain tersebut mengakui bahwa 'gol'nya dilatarbelakangi oleh perintah atasan, perintah dari petinggi yang mungkin merasa belum saatnya negara kita masuk ke gerbang internasional. Sejak saat itu saya tidak begitu antusias melihat pertandingan. Semua seolah sudah diatur.

Bilamana ada harapan bahwa negara kita Indonesia dapat menjadi juara dan itu semua tanpa 'perintah atasan' atau 'pengalihan isu' semata, saya turut senang dan lega mendengarnya. Namun jika harapan tadi hanya menjadi harapan kosong, seperti kata2 favorit bapak negara kita, "Saya hanya bisa prihatin..."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar