“kenapa berhenti?”
“jalan seakan tak ada
ujungnya.”
“punya tujuan?”
“tidak ada, hanya
berjalan mengikuti arus”
“arus?”
“arus kemana yang lain
akan membawa pergi”
“itu tidak ada
pendirian namanya”
“sebenarnya aku
tersesat”
“kenapa tersesat?
“tidak ada peta dan
kompas”
“perlukah?”
“tentu saja”
“peta untuk apa?
Jalanmu hanya satu”
“tapi
bercabang-cabang”
“hanya imajinasimu,
semua itu arahnya ke satu tujuan”
“bohong. Kalau begitu
kenapa banyak yang tersesat?”
“mereka membuat jalan
sendiri, mereka tidak puas akan apa yang sudah diberikan. Jalan mereka hitam
bukan? Itu yang membedakan”
“apakah ujung jalan
ini ada?”
“tentu saja”
“apa itu?”
“untuk memikirkan
jalan ini saja kau belum mampu, untuk apa memikirkan ujung jalannya”
“untuk motivasi
mungkin”
“yang jelas semua
sudah kamu ketahui kan? Dalam perjalanan menuju kesini”
“apakah itu benar?”
“apakah kamu merasa
tidak benar? Kamu sebenarnya tahu mana yang melenceng mana yang tidak”
“jalan ini banyak
halangan”
“alasan saja, yang membuat
halangan adalah kamu sendiri, pikiranmu sendiri”
“bagaimana dengan
mereka yang membuat ujung mereka sendiri? Berhenti padahal belum waktunya”
“jelas sekali kan?
Ujung paksaan mereka terlihat berbeda, bukan cahaya tapi lubang hitam”
“haruskah aku berjalan
lagi?”
“tentu, kalau terlalu
lama di satu tempat, jalan di belakangmu akan runtuh, dan semakin lama
pijakanmu akan hilang”
“tidak boleh
berhenti?”
“itulah gunanya
‘ruang’, gunanya ada kata ‘istirahat’. Berhenti sejenak jika beban dirasa
terlalu berat, pilih barang yang kira-kira berguna, tinggalkan sisanya, dan
kembalilah berjalan”
“masih lama?”
“semua tergantung
jalanmu, panjang pendeknya. Tergantung bekalmu, cukup tidaknya. Tergantung
hasil yang kaudapat dari perjalananmu, gelap atau terang.”
