Rabu, 02 Mei 2012

jalan dan ujung


“kenapa berhenti?”
“jalan seakan tak ada ujungnya.”

“punya tujuan?”
“tidak ada, hanya berjalan mengikuti arus”

“arus?”
“arus kemana yang lain akan membawa pergi”

“itu tidak ada pendirian namanya”
“sebenarnya aku tersesat”

“kenapa tersesat?
“tidak ada peta dan kompas”

“perlukah?”
“tentu saja”

“peta untuk apa? Jalanmu hanya satu”
“tapi bercabang-cabang”

“hanya imajinasimu, semua itu arahnya ke satu tujuan”
“bohong. Kalau begitu kenapa banyak yang tersesat?”
“mereka membuat jalan sendiri, mereka tidak puas akan apa yang sudah diberikan. Jalan mereka hitam bukan? Itu yang membedakan”

“apakah ujung jalan ini ada?”
“tentu saja”

“apa itu?”
“untuk memikirkan jalan ini saja kau belum mampu, untuk apa memikirkan ujung jalannya”

“untuk motivasi mungkin”
“yang jelas semua sudah kamu ketahui kan? Dalam perjalanan menuju kesini”

“apakah itu benar?”
“apakah kamu merasa tidak benar? Kamu sebenarnya tahu mana yang melenceng mana yang tidak”

“jalan ini banyak halangan”
“alasan saja, yang membuat halangan adalah kamu sendiri, pikiranmu sendiri”

“bagaimana dengan mereka yang membuat ujung mereka sendiri? Berhenti padahal belum waktunya”
“jelas sekali kan? Ujung paksaan mereka terlihat berbeda, bukan cahaya tapi lubang hitam”

“haruskah aku berjalan lagi?”
“tentu, kalau terlalu lama di satu tempat, jalan di belakangmu akan runtuh, dan semakin lama pijakanmu akan hilang”

“tidak boleh berhenti?”
“itulah gunanya ‘ruang’, gunanya ada kata ‘istirahat’. Berhenti sejenak jika beban dirasa terlalu berat, pilih barang yang kira-kira berguna, tinggalkan sisanya, dan kembalilah berjalan”


 “masih lama?”
“semua tergantung jalanmu, panjang pendeknya. Tergantung bekalmu, cukup tidaknya. Tergantung hasil yang kaudapat dari perjalananmu, gelap atau terang.”